Di Pasar Malam


Oleh Muhammad Yasir*

 

Seorang perempuan mempercepat langkah kakinya. Ia terabas saja orang kebanyakan yang saling berdempetan itu. Dalam gendongnya seorang anak lelaki menangis. Semakin cepat langkah kaki perempuan itu, semakin keras pula suara anak itu. Puluhan pasang mata terheran menyaksikan ulah perempuan itu. Namun tak satu pun dari mereka bersuara. Mereka hanya bertanya dalam hati kenapa perempuan itu? Kenapa anak itu menangis?

Ramai betul pasar malam itu. Orang kebanyakan saling berdatangan. Membeli barang atau hanya sekedar lihat-lihat atau anak remaja jalan dengan pacar barunya. Namun perempuan itu semakin mempercepat langkah kakinya. Menerabas orang kebanyakan saling berdempetan. Dan anak itu kini tersedu-sedan.

Oh! Semakin malam, semakin dingin, semakin ramai pula pasar malam itu. Dan perempuan itu menghentikan langkah kakinya persis di belakang sebuah mobil pick-up milik pedagang buah jeruk. Tak lama setelah berhenti diturunkannya anak itu dari gendong. Perlahan-lahan ia berkata, “Jaga matamu!”

“Tapi Bu, aku hendak baju itu!” rengek anak itu.

Perempuan itu menyeka air mata di sekujur wajah anak itu.

“Diamlah. Jangan permalukan aku Nak.”

“Tapi Bu, aku hendak mainan itu!”

Kemudian sembari menahan kaca-kaca air di matanya perempuan itu berkata, “Kita tak punya duit. Baju dan mainan itu mahal harganya. Kau tahu kan kalau bapakmu tak ada? Duh Nak, Anakku, jangan begini. Di pasar malam selanjutnya akan kubelikan kau baju dan mainan itu ya?”

“Ibu janji?”

“Iya, Nak.”

Perempuan itu kembali menggendong sang anak dan menghilang dalam temaram. Dan pasar malam semakin ramai saja.

Keesokan hari. Subuh tepatnya. Perempuan itu meninggalkan rumahnya diam-diam. Diam-diam adalah bagus agar anak itu tak bangun dari tidurnya. Biasanya, kalau anak itu terbangun karena kaget, ia akan minta susu. Susu bubuk! Mahal harganya. Maka itu perempuan itu sangat hati-hati dengan langkahnya. Namun sangat hati-hati pun bukan jaminan untuk aman. Nyatanya perempuan itu salah injak lantai papan rumahnya yang longgar. Tapi beruntunglah perempuan itu. Anak itu tak terbangun. Dan debar-debar di jantungnya terjadi cukup lama, hingga ia sampai di halaman sebuah rumah kayu mewah di kampung. Rumah itu adalah milik adik perempuannya.

“Dik?” panggilnya sembari mengetuk pintu.

Setelah panggilan kelima, terdengar suara langkah seseorang yang dengan perlahan membuka pintu. Itulah adik perempuannya.

“Kau? Ada apa kemari sesubuh ini?” Tanya sang adik pada perempuan itu.

Dengan raut wajah penuh harap perempuan itu berkata, “Aku perlu bantuanmu lagi Dik!”

“Apalagi? Hutangmu terlampau banyak. Suamiku suka ngomel padaku!”

“Begini Dik. Aku kemari bukan untuk mendapat utangan. Aku kemari untuk minta pekerjaan.”

“Pekerjaan apa maksudmu?” Tanya sang adik heran untuk kali pertamanya.

“Begini,” jawab perempuan itu, “keponakkanmu, ah, tak lah. Intinya aku perlu pekerjaan.”

“Sebentar!” suruh sang adik sembari masuk ke dalam rumah tanpa mempersilakan perempuan itu masuk.

Kabut subuh pun menyusut. Satu per satu ayam berhenti berkokok. Beberapa orang perempuan lewat di jalan depan. Dan beberapa orang lelaki tampak menapaki jalan setapak menuju danau sembari menjunjung jala.

Namun pikiran perempuan itu tak tenang-tenang. Ia ingat anak itu di rumah sendirian. Kemudian ia memanggil sang adik. Tapi tak ada sahutan.

Sejam kemudian. Tak kunjung jua sang adik keluar. Akhirnya perempuan itu pergi. Lari. “Kasihan Anakku sendirian di rumah. Bagaimana kalau anjing-anjing gila itu masuk rumah dan memangsanya? Ah! Tidak!!” begitulah pikirnya menceracau.

“Bu malam ini pasar malam kan?” Tanya anak itu berhari kemudian setelah perempuan itu ditolak kehadirannya oleh sang adik.

“Ya Nak. Malam ini pasar malam dan aku menepati janjiku!”

Perempuan itu berbohong pada anak itu. Padahal ia sama sekali tak ada duit yang cukup untuk membeli baju dan mainan yang dikehendaki anak itu.

Namun kemudian perempuan itu berkata pada anak itu, “Tunggu rumah sebentar ya! Aku hendak ke rumah nenek.”

Anak itu hanya mengangguk.

Perempuan itu kemudian mempercepat langkah kakinya menuju rumah sang bibi yang berada. Sesampai di rumah sang bibi, singkat cerita, ia disuruh mencuci pakaian dan membersihkan kolong rumah.

Berjam lamanya petang pun datang. Dan perempuan itu menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian sang bibi membayar upahnya. Upah itu dibungkus dalam lipatan kain putih. Oh! Betapa bahagianya hati perempuan itu! Lihatlah air mukanya! Bahagia!

Dari kejauhan tampak para pedagang telah mempersiapkan barang dagangan mereka. Pasar malam akan kembali meramaikan kampung itu. Dan perempuan itu semakin mempercepat langkah kakinya. Ia sungguh tak sabar ingin membawa anak itu ke pasar malam!

“Mari kita pergi!” kata perempuan itu sembari mengangkat anak itu ketika semuanya telah siap.

Upah yang dibungkus dalam lipatan kain putih itu diikatnya di ujung kain bahalai penopang berat badan anak itu.

Orang kebanyakan telah merubung pasar malam itu tak ubahnya lalat merubung kotoran kau atau bangkai ayam kau! Maka perempuan itu dengan gegabah menerabas orang kebanyakan dan menuju sebuah lapak baju.

“Yang itu Bu! Yang itu!” ucap anak itu sembari menunjuk sebuah baju bergambar kartun warna merah.

Pedagang, seorang lelaki tua, itupun mengambil baju yang ditunjuk anak itu dan melipatnya kemudian memasukannya ke dalam kantong hitam.

“Tigapuluh ribu,” ucap sang pedagang.

Perempuan itu semringah, karena upahnya lebih besar dari harga baju itu. Iapun meraba ujung kain bahalai di bahunya. Namun sial! Lipatan kain putih berisi upahnya itu tak ada. Hilang! Jatuh atau dicuri? Siapa peduli!

Anak itu menangis lagi. Perempuan itu mempercepat langkah kakinya lagi. Menerabas orang kebanyakan sembari menahan kaca-kaca di matanya tak pecah. Dan pasar malam itu semakin ramai saja.

 

Yogyakarta, Januari 2018.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s