Risalah Sekuntum Mawar Merah


Oleh Asef Saiful Anwar*

 

Sekuntum mawar merah

yang kau berikan kepadaku

di malam itu

kumengerti apa maksudmu.

Meskipun mengerti makna pemberiannya, Esih tidak akan pernah tahu sekuntum mawar merah yang diberikan kekasihnya di malam itu mulanya seperti apa. Sungguh ia tidak akan pernah tahu bagaimana mawar yang kini ada di genggamannya itu dapat tumbuh, berkuncup kembang, mekar, merona, dan mewangi. Seandainya tahu, ia tak akan mungkin bernyanyi riang sambil bergoyang dengan sesekali mengerlingkan matanya ketika sampai pada baris “kumengerti apa maksudmu”.

Ia berkali-kali mengecup kelopaknya dan menghirup dalam-dalam sisa aroma wanginya. Perasaannya melayang. Dadanya mengembang. Itu bunga pertama yang diterimanya dari seorang lelaki. Meski hanya sekuntum dengan tangkai yang mungil, bunga itu demikian berarti baginya. Tidak karena yang pertama, tapi lebih karena siapa orang yang telah memberikannya.

Apalah arti sekeranjang bunga jika ia diberikan oleh seseorang yang mencintai dibandingkan setangkai bunga yang diberikan oleh seseorang yang dicintai? Ia memang telah jatuh hati pada Rama yang beberapa pekan ini mendekatinya lewat serangkaian pesan pendek penuh perhatian dan bertemu pada kesempatan-kesempatan yang tak pernah disengaja—sehingga ia yakin pertemuan-pertemuan itu telah diatur Tuhan. Dan malam itu, malam ketika mawar diberikan, adalah pertemuan mereka yang pertama kali direncanakan melalui sebuah janji.

Esih masih larut dalam perasaan bahagianya. Meski sudah tiga hari mawar itu diberikan, ia merasa masih berada di malam itu. Sungguh, betapa ia ingin waktu dibekukan pada malam ketika mawar itu diberikan kepadanya. Seandainya kau katakan padanya bahwa ada cinta lain pada mawar berkelopak elok itu, Esih pasti tak akan percaya, dan malah menganggapmu iri pada kebahagiaan yang kini tengah dinikmatinya.

sampai kini kusimpan

bunga pemberian darimu

tiap kulihat kuterkenang pada dirimu.

 Ia menyimpan bunga itu dalam sebuah vas kaca kecil di atas meja riasnya. Tiap pagi dan sore airnya diganti, dan sesekali ia tetesi dengan cuka apel. Setiap kali bercermin ia melihat dirinya seolah sedang dipandang oleh Rama. Dari wajahnya hingga sekujur tubuhnya. Dan ia balas memandang dengan mengenang.

Ia tak cuma mengenang sikap, wajah, tutur kata, serta senyuman Rama, tapi kerap pula membayangkan bagaimana lelaki itu melawan hujan lalu menyempatkan diri mampir ke toko bunga sebelum bertemu dengannya tepat ketika hujan sudah reda di malam itu. Rama mungkin telah merencanakan memberinya bunga jauh hari sebelum mereka janjian. Dibayangkannya lelaki itu ada di toko bunga tengah memilah dengan tekun satu demi satu mawar yang paling segar dan cerah. Menyingkirkan puluhan mawar rekah lainnya setelah memantapkan diri memilih yang merah, bukan yang putih. Kemudian, masih dalam bayangannya, Rama membawa bunga itu dengan hati-hati—menjaga kelopaknya agar tetap dalam rekahan yang murni dan agar aromanya tak berkurang—hingga sampai di tangannya dalam keadaan segar dan wangi, seolah baru dipetik dari pohonnya.

Ah, bukan “seolah” tapi memang benar mawar itu baru dipetik dari pohonnya. Hanya mengenai hal itu bayangan Esih benar, bayangan yang justru terletak pada “seolah”. Selebihnya bayangannya salah, sebab mawar itu tidak dibeli pada malam itu. Mawar itu dibeli sembilan puluh lima hari yang lalu. Dibeli dari sebuah kios tanaman, bukan dari toko bunga, dan dalam wujudnya yang masih berupa tunas pohon berdaun lima yang menancap pada tanah di sebuah pot plastik berwarna aspal. Dan yang membeli tentu bukanlah Rama.

Seandainya Esih tahu yang sebenarnya, ia tak akan mungkin menerima dan menyimpan mawar itu. Tapi nyatanya, ia kini sedang berbahagia, meresapi cinta dari tiap kelopaknya, dari ronanya, dari harumnya sembari bernyanyi, bergoyang, dan sesekali mengerlingkan matanya pada cermin seolah tengah berpandangan dengan Rama.

 bunga mawar suatu tanda cinta

yang berarti bahwa kau cinta padaku

dengan senang hati kuterima cintamu

karena aku juga cinta kepadamu.

 Demikianlah, mawar telah disepakati sebagai tanda cinta. Termasuk tanda cinta Rama kepada Esih. Sebagaimana banyak orang yang tidak mengerti mengapa mawar yang dipilih sebagai lambang cinta, bukan melati, bukan kenanga, bukan kamboja, Esih juga demikian, larut dalam makna rekah kelopaknya, warna merah meronanya, dan semerbak aroma wanginya. Ia lupa pada duri mawar, sesuatu yang juga dikandung cinta. Dan duri itulah yang digunting Rama pada mawarnya sebelum diberikan pada Esih. Duri yang mengiringi mawar itu tumbuh, berkuncup kembang, mekar, merona, dan mewangi.

***

Dengan keringat yang sesekali mengalur di dahinya dan sisa tenaga sehabis seharian bekerja, sembilan puluh lima hari yang lalu Ani—seseorang yang tak akan pernah dikenal Esih—berjalan membawa tunas mawar berdaun lima pada sebuah pot kecil. Pelayan kios tanaman telah menawarinya untuk dikantongi keresek agar lebih mudah dibawa. Tapi, ia menolaknya dan memilih membawanya dengan kedua tangannya dalam posisi berdoa. Dan memang sepanjang perjalanan ia terus berdoa agar mawar itu dapat tumbuh dengan sempurna. Ia membawa pohon yang belum berbunga itu dari kios tanaman ke rumah tunangannya sejauh satu kilometer lebih dengan jalan kaki.

Pengorbanannya tak sia-sia ketika tunangannya menyambutnya dengan penuh senyuman serta membuatkannya es sirup frambos yang begitu saja diteguknya habis tanpa jeda. Diusap pula keringat di dahinya oleh tunangannya yang berjanji: “Aku akan merawat dan menjaganya sampai berbunga dan mekar.”

Selepas itu, hampir setiap hari Ani ke rumah tunangannya dan menengok mawarnya yang ditaruh di luar jendela kamar. Pada pekan pertama dan kedua, hanya sesekali tunangannya lupa menyiraminya. Untuk mengingatkannya ia tak segan mengirim sms atau menelepon apabila tak bisa ke sana. Pada pekan-pekan berikutnya tunangannya seperti mengabaikan pertumbuhan mawar yang lebih sering ditanyakan keadaannya daripada keadaan dirinya. Akibatnya mereka bertengkar dalam diam, meskipun Ani bertambah cerewet sendiri mengomentari nasib mawarnya yang seperti tak terurus.

Namun, pada hari keempat puluh tiga, ketika kuncup mawar itu mekar, Ani tak lagi cerewet sebab bagaimanapun mawar itu dapat mekar pasti karena dijaga dengan baik oleh tunangannya, sementara tunangannya melihat mawar merah yang mekar itu sebagai sebuah isyarat cinta. Dalam sepekan mereka menikmati bersama mawar yang merekah itu dengan memandanginya tiap sore hari sambil meminum es sirup frambos dan membicarakan masa depan pertunangan: pernikahannya akan dihelat seperti apa (Ani memilih adat lokal agar lebih sakral, tunangannya lebih suka adat luar negeri agar lebih simple), pernikahannya diadakan di mana (Ani memilih di rumah karena ia sering kesal terjebak macet akibat jalan raya yang dijadikan tempat parkir sebuah gedung yang menghelat pernikahan, tunangannya lebih suka di gedung agar tidak ribet bersih-bersih dan beres-beres rumah demi keperluan pernikahan), siapa teman yang jangan diundang (kali ini mereka sepakat sebab bagi mereka membahas hal ini lebih seru dibandingkan membicarakan siapa yang akan diundang), memilih tanggal pernikahan (Ani percaya tanggal dan hari baik, sementara tunangannya meminta untuk disesuaikan dengan jadwal haid Ani agar malam pertama menjadi waktu pertama mereka bersebadan), dan hal-hal lainnya yang sering dianggap lucu oleh salah satunya sementara yang lainnya cuma ikut-ikutan tertawa tanpa tahu letak kelucuannya.

Sepekan kemudian bunga itu layu, saat itulah sang tunangan belajar bagaimana menggunting mawar itu dari pohonnya sekaligus mendapatkan ide nakal ketika Ani berujar sambil memotong tangkai: “Harus digunting agar empat puluh lima hari lagi dari sekarang ia kembali memekarkan bunga. Semoga lebih merona dan lebih wangi dari yang pertama.”

***

Jika Esih tahu bagaimana kisah pertumbuhan mawar itu dari tunas, berkuncup kembang, mekar, merona dan mewangi, sebelum diberikan kepadanya, ia pasti tak akan menerimanya apalagi sampai menyimpan dan tega bergoyang di atas penderitaan orang lain sambil melantunkan baris ini:

oh bahagia, dua hati telah berpadu.

Sebab, pada malam itu tidaklah sekadar ada dua hati berpadu, tapi dua hati telah beradu: hatinya dengan hati perempuan lain yang memberikan mawar itu kepada tunangannya pada sembilan puluh lima hari yang lalu.

Namun, sekali lagi, Esih tidak akan pernah mengerti sebab yang diketahuinya hanya: Rama membatalkan pertunangannya dengan seorang gadis karena lebih memilih untuk menikahi dirinya. Dan karena kebahagiaan lebih banyak datang pada mereka yang kurang banyak mengerti, ia akan tetap bernyanyi, bergoyang, dan sesekali mengerlingkan matanya ketika sampai pada kata “kumengerti”:

Sekuntum mawar merah

yang kau berikan kepadaku

di malam itu

kumengerti apa maksudmu….

***

 Asef Saeful Anwar penganut dangdut garis lembut dan penulis novel Alkudus (Basabasi, 2017).

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s