Politik Uang Denny JA dalam Proyek Pembodohan Sejarah Sastra di Kalimantan Barat


Oleh Ivo Trias J*

Rabu, 6 Juli 2016, Jogja menyambut petualangan nekatku yang telah mengorbankan diri didrop out dari kampus lamaku. Kedatanganku—yang waktu itu merasa hebat—lantas dibayar dengan ‘tamparan’ bertubi-tubi. Ditertawakan, ‘dicaci-maki’, dan seluruh karya yang telah kulahirkan sebelum bertualang diapresiasi hanya dengan satu kata, “sampah!”. Woh, tentu menyakitkan. Tapi, kuakui betul bahwa kata ‘sampah’ itu justru memantik rasa penasaranku yang lalu—setelah memasuki lingkungan sastra dengan orang-orang beridealis, bukan pemberhala rupiah dan popularitas semata, lingkungan yang pemberani, tegas dalam bersikap dan luar biasa dalam berkarya, juga setelah mengenal Rendra dan Pram lewat karyanya—berubah menjadi rasa cinta yang mendalam kepada sastra. Sejak itulah, pandanganku terhadap dunia Sastra berubah jauh dari pandanganku selama bergelut di Kalimantan Barat (Kalbar).

Petualanganku di Jogja menawariku pemahaman yang baru kuketahui dalam hidupku. Bahwa sastra, tak semata membicarakan karya, menerbitkan buku, atau membacakannya dari panggung ke panggung pada setiap pagelaran kegiatan kesenian sebagaimana yang kerap kulakukan di Kalbar. Kesadaran semacam inilah yang kemudian membuatku berani untuk menaruh sikap atas ‘kebobrokan’ di Kalbar. Rasa muak terus mengacau pikiranku hingga akhirnya sesekali waktu kubuat status-status ‘pedas’ yang kutujukan pada mereka di akun Facebook pribadiku. Ternyata itu tak cukup membuat sadar, karenanya, aku lalu mengirim status-status ‘pedas’ lainnya secara berkala. Hingga pada suatu waktu, seorang sahabatku mengatakan bila namaku telah menjadi perbincangan hangat dalam satu fórum literasi elite bernama FIM (Forum Indonesia Menulis) yang diprakarsai oleh Fakhrul Ar-razi, seorang penulis yang mengklaim diri dengan istilah ‘Writervator No.1 Indonesia’ dan sebagai penulis best seller seperti tertera di cover ‘Kitab Sukses Mahasiswa’ karyanya. Realita ini sedikitnya menunjukkan betapa sebagian golongan pelaku Sastra Kalbar  itu mewarisi sikap egosentris dan terkesan feodal. Tapi tak sekalipun pelabelan macam itu bakal membuatku mundur, karena memang beginilah risiko yang bakal diterima atas pilihan untuk melawan ‘kebobrokan’ yang rasanya mulai menjadi paradoks itu!

Kekecewaan yang kurasakan memuncak ketika Saut Situmorang—seorang penyair gimbal yang dikenal keras dan getol dalam membersihkan ‘sampah-sampah’ sastra hingga membuatnya dipolisikan oleh karena pemaknaan bahasanya gagal dimengerti—pada tanggal 14 Januari 2018, mengirimkan satu catatan berjudul ‘Inilah Daftar Korban AIDS Denny JA’. Tulisan itu adalah pemuatan ulang atas tulisan Denny JA berjudul ‘Itukah Batin Indonesia? (Sejarah, Mimpi, Luka, Politik dan Puisi)’ yang dipublikasikannya pada tanggal 13 Januari 2018 di inspirasi.co (baca : https://www.inspirasi.co/dennyja/41604_inikah-batin-indonesia-sejarah-mimpi-luka-politik-puisi). Aku dibuat terkejut saat mendapati tiga nama yang kukenal sebagai sastrawan asal Kalbar terlibat di dalamnya: Pradono dengan puisi esainya yang berjudul ‘Jelagat Parit Setia’, Jufita dengan puisi esainya yang berjudul ‘Bulan Semangka Darah’, dan Sarifudin Kojeh dengan puisi esainya yang berjudul ‘Tuah tiada lagi Bertuah’.

Hari ketika aku menuliskan ini adalah satu momentum tersendiri dalam hidupku, di mana aku kembali harus mengenang seorang muda yang diasuh oleh euforia berkarya belaka. Dua tahun lalu, 17 Januari 2016, kali pertama aku mengenal seorang yang begitu diagung-agungkan hampir oleh seluruh masyarakat Kalbar, terutama mereka yang ‘bergelut’ dalam dunia kesenian dan kesastraan. Pertemuan yang tak sengaja dalam sebuah event sastra digagas oleh sebuah forum sastra terbesar di Kalimantan Barat, FORSAS KALBAR (Forum Sastra Kalimantan Barat), yang kedudukannya tampak seolah ‘bapak sastra’.  Forum tersebut terkesan seperti ruang untuk memuja-muji karya dari para penulis muda-tua dan menggaung-gaungkan eksistensi para senior tanpa sikap kritis akan kesalahannya.

Pradono, begitulah nama yang kemudian tertanam di kepalaku. Secara pribadi, aku mengakui kepiawaiannya dalam membacakan sajak. Perawakannya yang khas—ketika itu—dengan rambut gondrong terurai bak seniman pada umumnya, kumis tebal yang menghiasi bawah hidungnya, jaket tua yang dilipat setengah lengan menyerupai kekhasan Rendra, dan tentunya, topi hitam tua dengan tulisan ‘puisi’ tersemat di depan. Cukuplah ke-Pradono-an itu kemudian mendorongku (yang malu-malu) memperkenalkan diri padanya.

22 Februari 2016, dalam sebuah mimbar bebas bertajuk Tolak Revisi UU KPK yang digagas oleh masyarakat sipil dari beragam latar belakang profesi dan organisasi di Kalimantan Barat di Taman Digulist Pontianak, aku bertemu kembali dengan Pradono atau yang akrab disapa bang Don. Kami juga pernah bertemu dalam sebuah kegiatan sastra yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMBASI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura. Sejak itu, aku rutin mengikuti kaki bang Don, karena keterpukauanku akan kemampuannya membaca sajak. Ke mana ia diundang, aku pun duduk sebagai penonton. Hingga bang Don kemudian menjadikanku tidak sebatas penonton, tapi ikut ambil bagian dalam setiap kegiatan.

Kupikir di kepala bang Don masih mengingat betul peristiwa suatu malam di bulan Februari 2016. Aku bertanya mengenai perseteruan antara Denny JA dan Saut Situmorang. Masa itu, aku tak terlalu memahami sastra dan polemiknya terkait kemunculan buku fenomenal berjudul ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’. Penolakan terjadi dengan alasan bahwa buku ini dan proyek-proyek lain di belakangnya merupakan ‘pembodohan sejarah sastra’. Denny JA begitu berani  mengklaim diri sebagai salah satu tokoh berpengaruh di antara nama-nama besar seperti Pramoedya dan Rendra. Hal ini terjadi karena Denny JA pun telah menobatkan dirinya sebagai pencetus puisi esai, yang kemudian diamini oleh para sastrawan nasional upahannya. Politik uang yang dilakukan Denny JA mencoreng wajah sastra Indonesia. Terlebih, kekuatannya mampu membuat beberapa sastrawan besar melacurkan integritas dan idealismenya. Bang Don menjawab, “Itu karena Denny JA yang sok-sok nak pahlawan dalam dunie Sastra. Emang siape die? Baru nulis puisi esai pun dah nak berani-berani macam tu. Ape jejak rekam die dalam dunia Sastra? Mane ade, wajarlah ditolak!”. Begitulah kiranya, sosok Pradono yang kuanggap sebagai guru itu, memiliki pandangan, bersikap tegas pada siapa pun yang menyepelekan sastra, dan mampu menentukan sikap. Tapi, itu dulu, jauh sebelum Pradono yang hebat itu ‘mati’ di kepalaku.

Berbicara mengenai sepak terjang Denny JA dalam proyek pembodohan sejarah sastra Indonesia, ia kemudian disinyalir memberi upah sebesar 5 juta rupiah kepada setiap penulis yang berkenan menulis puisi esai. Menurut pengakuannya di nusantaranews.co, luaran dari kegiatan ini, akan terbit 34 buku yang mewakili 34 provinsi. Total penyair yang terlibat 170 orang dari 34 provinsi. Masing-masing provinsi akan mendelegasikan 5 penyair. Penulis-penulis upahan tersebut akan mengeskpresikan 170 isu sosial di 34 provinsi di seluruh Indonesia (baca : https://nusantaranews.co/mengenal-wajah-batin-rakyat-melalui-puisi-esai-di-34-provinsi/).  Tentu bukan hal yang susah bagi Denny JA menggelontorkan dana sedemikian besar demi mengukuhkan kedudukannya sebagai penggagas genre baru dalam dunia Sastra Indonesia, yakni puisi esai. Apalagi politiknya—yang dalam hematku—telah memahami betul besaran honor yang diterima oleh penulis ketika karya mereka dimuat pada sebuah media cetak berskala nasional sekalipun. Barangkali momen semacam inilah yang kemudian dimanfaatkannya untuk menarik para penulis yang dalam berkarya menjadikan uang sebagai hal yang pokok.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Eimond Esya dalam tulisannya, puisi esai cacat secara epistemologi. Ia tidak bisa dikatakan sebagai bentuk, apalagi gagasan baru perpuisian Indonesia. Ditegaskan pula olehnya, puisi esai adalah rekayasa demi glorifikasi pribadi dan syahwat politik Denny JA yang dilakukan lewat kekuatan uang. Popularitas, legitimasi, dan pengakuan atas puisi esai maupun ketokohan Denny JA hanya bisa didapatkan dengan membayar, membeli, membiayai sebanyak mungkin lomba, kegiatan, penerbitan buku, kritik, review atau format literasi lain dari orang-orang upahan. Bukankah jelas rasanya bila aku menyebut keterlibatan Pradono dan dua penulis Kalbar lainnya, Jufita dan Sarifudin Kojeh sebagai bentuk kecerobohan sebab mampu dibuai oleh hegemoni rupiah dari Denny JA untuk bersama-sama larut dalam ruang pembodohan ini? Wah, betul-betul mengecewakan!

Sebagai penutup di tulisan ini, kuakhiri dengan mengutip sebuah pernyataan tegas dari Eimond Esya, “Puisi esai dan tindakan Denny JA dalam kesusasteraan Indonesia adalah penghinaan atas integritas, etika, keilmuan, intelektualitas dan upaya-upaya kerja sastra sesungguhnya. Terlibat dalam proyek puisi esai dalam bentuk apapun adalah persetujuan pada penghinaan tersebut dan mendukung kejahatan dalam dan atas diri sastra Indonesia”

 

Pontianak, 17 Januari 2018

 

* Ivo Trias J, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s