Indahnya Masa Kecil Kids Jaman Now!


Saya dulu termasuk anak yang bandel, kata ibu saya. Saya masih ingat ketika Ibu terpaksa menjemput saya dengan sebilah rotan karena hingga pukul empat sore saya belum juga sampai di rumah. Padahal masa itu, anak-anak sudah bubar sekolah pukul 12 siang. Tidak seperti sekarang. Anak-anak tertib di sekolah hingga pukul empat sore.

Sering saya membayangkan, jika saya lahir dan besar di jaman sekarang. Cap bandel tidak akan menempel pada saya. Karena ibu saya tidak perlu sering menjemput saya ke sungai di belakang sekolah atau ke pantai di depan rumah dikarenakan saya tidak juga pulang. Saya akan menghabiskan banyak waktu di sekolah, bersama teman-teman dan guru.

Tentu saya akan menjadi manusia yang lebih cerdas dan intelektual, karena sembilan jam sehari saya habiskan di depan meja, di depan buku-buku pelajaran, di depan guru yang mungkin mulai kelelahan. Saya seharian di sekolah bersama teman-teman, dan Ibu saya tak perlu panik dan repot mencari saya ke sana- ke mari.

Pernah suatu ketika, saya pulang dengan lutut dan siku penuh luka. Tentu sudah bisa dibayangkan seperti apa respon ayah dan ibu saya. Saya memang bandel. Di depan warung, tempat saya biasanya main dan kumpul dengan teman-teman sebaya, selalu terparkir sebuah sepeda ontel tinggi. Saat itu saya hanya berpikir, saya harus menemukan cara agar saya tidak selalu diejek teman-teman karena belum juga bisa berenang, padahal kami tinggal di pesisir pantai. Saya harus bisa naik sepeda itu karena belum ada satu pun teman saya yang bisa melakukannya. Itu akan menjadi prestasi tersendiri dan setidaknya mengangkat sedikit derajat saya di hadapan teman-teman. Alhasil, saya pulang dengan badan penuh goresan dan luka. Ibu saya sudah tentu cemas, khawatir, terlebih marah. Dan sudah pasti beliau langsung membayangkan apa yang terjadi pada sepeda ontel yang saya gunakan sebagai sarana belajar.

Anak-anak sekarang mungkin tidak akan mengalami apa yang saya dan teman-teman alami. Untuk merasakan nikmatnya bersepeda, mereka tinggal duduk dan menggunakan telunjuk. Tidak hanya sepeda, mereka juga bisa mengendarai motor bahkan mobil sekelas formula 1. Mereka tidak akan terluka, tubuh mereka tidak akan lecet, dan sudah pasti orang tua mereka tidak akan khawatir jika hal buruk terjadi pada anak-anak mereka atau memikirkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengganti kerusakan seperti yang terjadi pada saya dulu.

Tidak banyak yang perlu anak-anak jaman now buktikan, terutama pada teman-teman. Pembuktian cukup dengan angka-angka di atas kertas hasil belajar atau segudang prestasi yang sudah pasti akan membat bangga orang tua dan sekolah. Malah, pembuktian dengan sebaya, cukup dengan semua atribut dan aksesori yang dimiliki atau dikenakan. Bahkan jika masih saja tidak ada yang mau dekat dan main, tinggal menyalakan gawai, aktifasi berbagai media sosial, dan mencari sebanyak-banyaknya teman di dunia maya. Jadi tidak perlu repot hingga berdarah-darah seperti saya dahulu. Ah nikmat sekali jadi kids jaman now.

Sewaktu sekolah, saya juga ingat punya kebiasaan ketika jam istirahat bersama teman. Di depan sekolah, terdapat sebuah pohon besar bernama pohon roda-roda, karena buahnya memang sangat mirip roda mobil truk. Di pohon itu, kami memiliki singgasana kami masing-masing di setiap cabangnya. Kami akan berlomba memanjat dan menduduki singgasana tersebut. Tentu saja tidak lupa membawa bekal. Ada semacam arisan yang kami lakukan perkara bekal tersebut. Setiap anak akan mendapat giliran untuk membawa bekal andalannya yang akan dibagikan pada teman-teman.

Sayangnya, itu hampir menjadi momen yang ngeri-ngeri sedap buat saya. Bagaimana tidak, saya yang masa sekolah menyambi berjualan panganan kecil buatan Ibu, akan kewalahan menghitung uang yang harus saya ganti dan serahkan pada ibu saya. Teman-teman saya begitu menyukai panganan buatan ibu. Dan saya, gadis kecil yang tidak bisa menolak bujuk rayu teman-teman masa itu. Tidak, saya tidak merasa dirugikan, karena saya bergembira bersama teman-teman. Hanya sesekali, Ibu saya akan mengomel karena uang setoran yang kurang.

Kami juga teramat sering berkumpul bersama. Sekadar patungan untuk belajar memasak nasi sendiri dan menggoreng ikan yang kami beli di warung dekat sekolah. Penjaga sekolah masa itu sering mengusir kami. Alasannya, tentu saja nanti khawatir orangtua kami mencari kami. Mungkin juga ia cemas, kami akan membakar sekolah dari api kecil yang kami nyalakan dengan tungku batu. Tapi menikmati makan siang bersama teman-teman hasil racikan sendiri, sungguh luar biasa nikmatnya.

Mungkin jika saya lahir masa sekarang, kami tidak akan memasak, melainkan tinggal nongkrong di salah satu restoran cepat saji dengan berbagai menu yang mengundang selera. Tidak akan ada perbincangan mengenai siapa yang akan mengempeskan ban sepeda motor kepala sekolah yang tadi pagi memberi kami hukuman berdiri dan hormat di hadapan tiang bendera hingga berjam-jam, atau siapa yang esok hari bertugas menemui guru BK untuk mengantarkan laporan-laporan mingguan siswa. Kami pasti akan asik dengan gawai kami masing-masing, sekadar buka dan baca beberapa status di media sosial, berswafoto, atau main game yang terlihat sungguh sangat menyenangkan.

Orangtua, juga dulu saya pikir sungguh kejam. Bagaimana tidak. Mereka membiarkan saya dihukum oleh guru, tanpa sedikit pun membela atau menuntut guru tersebut. Tidak seperti anak-anak sekarang, yang sungguh dimanja dan diperhatikan orangtua mereka. Kadang saya membayangkan, jika orang tua saya seperti para orangtua akhir-akhir ini, mereka juga akan kerepotan bolak-balik ke sekolah hanya mengurus perkara saya yang nakal.

Saya pernah dihukum oleh wali kelas ketika di bangku kelas lima. Saya tidak diijinkan pulang, hingga saya bisa menghapal seluruh perkalian di luar kepala. Hari itu, saya baru sampai di rumah pukul lima sore, padahal jam bubar sekolah pukul dua belas siang. Saya ingat betul guru tersebut. Namanya pak Saparman. Laki-laki dengan jenggot dan kumis lebat, mengendarai vespa biru dengan kacamata hitamnya,  yang bagi kami masa itu sungguh keren.

Sungguh berbahagia anak-anak jaman sekarang. Saya tidak bisa membayangkan, betapa bahagianya saya jika lahir di masa ini. Saya akan punya gawai model terbaru dan bisa mengunggah semua foto-foto keren saya ketika belajar. Saya tidak akan dihukum oleh guru karena orang tua saya akan siap menemui dan menegur siapa pun guru yang berani melakukannya. Tapi, saya juga teramat sering merindukan masa kecil saya .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s