Sastra dan Persoalannya: Suatu Malam di Kedai Mare


Oleh Danang Pamungkas

RABU, 13 Desember 2017. Menjadi hari yang spesial bagiku untuk mendokumentasikan perisitiwa epik yang jarang aku temui di Jogja. Malam itu Zeffry Alkatiri seorang sastrawan yang memenangkan Khatulistiwa Literary Award lewat karya Post Kolonial dan Wisata Sejarah, datang ke Kedai Mare. Ia datang untuk berbagi pengalaman seputar kepenulisan dan persoalan sastra kontemporer. Tak hanya Zeffry yang berbagi pengalaman. Beberapa penulis sastra dari Jogja juga menghadiri diskusi ini. Seperti; Bernando S Sudjito, Asef Saeful Anwar,  Nermi Silaban, Indrian Koto, Yona Primadesi, dan Faisal Kamandobat. Diskusi ini terselenggara berkat Yona Primadesi seorang penulis sekaligus pemilik Kedai Mare.

Jika diskusi biasanya membahas buku ataupun persoalan. Maka diskusi ini membahas apa saja tetek bengeknya sastra dan persoalan di luar sastra. Bung Zeffry lebih banyak menceritakan proses penciptaan puisi dan penghargaan karya sastra di Indonesia.

“Saya sendiri menulis puisi karena saya merasa nyaman di sini, lewat sajak-sajak bernafaskan sejarah. Kalau menurut saya sendiri penghargaan puisi KLA, banyak penulis-penulis yang sebenarnya karyanya berkualitas namun tidak menang. Padahal ada karya yang tidak biasa, dan menurut saya itu unik sekali. Kan saya juga jadi Dosen di UI, saya bisa menilai terkait kelebihan dan keunikan tulisan karena saya membeli 10 buku puisi yang masuk nominasi. Tapi sampai sekarang saya tidak tahu siapa yang menjadi dewan jurinya.”

Sementara itu Bung Bernando menceritakan bagaimana proses penciptaan puisinya yang bertema perjalanan di Turki yang masuk 10 besar nominasi KLA 2017.

“Kalau saya sendiri membuat puisi ini karena mendapatkan banyak cerita yang menarik di Turki. Di mana ternyata banyak bangunan wisata di Turki dibeli oleh orang Rusia dan Eropa. Sehingga warga Turki hanya menjadi penonton di negaranya sendiri. Ini hampir sama dengan terjadi di Indonesia.”

Setelah berdiskusi seputar penghargaan puisi, Bung Zeffry ingin mengetahui bagaimana Jogja mampu menghidupkan sastra ketimbang kota-kota besar di Indonesia. Padahal Jogja tidak mempunyai Dewan Kesenian dan lembaga formal. Di kota yang sudah ada Dewan Keseniannya malah sastra kurang berkembang.

Pertanyaan itu langsung ditanggapi oleh Bung Indrian Koto yang menjadi pelaku penerbitan buku indie JBS sekaligus penulis puisi yang karyanya banyak dimuat dan diterbitkan.

“Saya melihat Jogja bisa berkembang sastranya karena banyak penerbit indie yang bermunculan, dan banyak ruang-ruang diskusi yang membahas karya sastra. Penulis-penulis baru bermunculan, dan penerbitan indie juga berkembang pesat. Hal ini membuat karya sastra menjadi lebih hidup di kota ini. Kalau penerbit indie kan jumlah cetakannya bisa diatur dan mendapatkan pasar yang sesuai. Jangan lupa kalau di Jogja banyak Cafe yang menyediakan lahan untuk diskusi dengan biaya yang murah atau bahkan tanpa biaya, yang mungkin tidak kita temukan di kota-kota besar lainnya. ”

Tanggapan juga datang dari Bung Asef. Ia berpendapat kalau karya sastra berkembang di Jogja karena menjadi hal yang populer bagi anak muda. Apalagi sekarang banyak band indie Jogja yang mempopulerkan karya sastra lewat lagu. Bisa dibilang geliat musik indie dan penerbitan buku indie membuat karya sastra bisa diterima oleh semua orang.

Diskusi makin seru dengan tanggapan seorang aktivis literasi dari NTB yang tidak kuketahui namanya. Ia menceritakan bahwa di daerah asalnya, karya sastra sangat tidak populer. Kultur membaca pun juga rendah, bahkan mahasiswa saja tidak terlalu suka dengan buku. Ia menceritakan bahwa perpustakaan di sekolahnya tak terpakai. Buku-buku pun sudah berdebu dan tidak terawat. Hal itu baginya adalah kegagalan lembaga pendidikan dan sekolah dalam mempopulerkan karya sastra di sekolah.

Aku pun ikut menanggapi persoalan itu karena pernah mendapatkan pengalaman tidak mengenakkan di sekolah. Aku pernah ditegur oleh guru karena mempopulerkan novel Bumi Manusia karya Pram kepada siswa SMA. Aku ditegur karena dianggap menyebarkan ajaran sastra terlarang kepada siswa. Saat itu aku bersama siswa membuat buletin yang mengangkat tema Sastra Populer melalui karya Pram. Anehnya yang menegurku adalah guru bahasa Indonesia. Ia menuduh Pram seorang sastrawan Lekra yang membahayakan negara. Akhirnya buletin itu dibredel oleh instruksi guru tersebut.

Saat menjalani praktik mengajar itu, aku juga melihat kalau guru terlampau administratif dalam mengajar. Bayangkan metode pembelajaran, kurikulum, sampai pada rencana pembelajaran sudah dibuat oleh negara. Akibatnya, guru tidak mempunyai kesempatan untuk bereskplorasi dengan metode belajar dan menambah wawasan pengetahuan. Bahan bacaan untuk siswa SMA pun hanya sebatas mengenal novel-novel teenlet, itupun masih mendingan. Ada juga yang sangat kaku dalam mengajar sehingga karya sastra sama sekali tak tersentuh.

Tanggapan pun mulai bermunculan seputar persoalan karya sastra Indonesia yang hanya dikenal oleh mahasiswa. Sementara untuk remaja sekolahan belum dikenal luas. Bung Zeffry pun menanggapi persoalan itu.

“Mungkin pemerintah dalam hal ini Kementerian harus mulai mengelist buku-buku yang cocok untuk di baca anak-anak, dan buku yang cocok dibaca remaja SMA. Karena enggak mungkin banget anak SMA membaca karyanya Nirwan Dewanto atau sastrawan lain yang bahasanya sukar dimengerti, kalau tidak mempelajari teori-teori dan tak terbiasa membaca buku yang membutuhkan banyak wawasan untuk menyelaminya.”

Sahut-menyahut tanggapan pun kian menarik. Yona Primadesi kurang sepakat dengan usulan Bung Zeffry. Bagi Yona, kalau orang dewasa mengintervensi bacaan anak-anak dan remaja, itu akan menjadi bentuk imprealisme pengetahuan. Jalan terbaik adalah membebaskan anak dan remaja untuk membaca buku apapun, namun harus ada dampingan dari guru dan orang tua. Ia mencontohkan bagaimana Naya bisa membaca buku apa saja yang berat-berat namun ia tetap bisa memahami teks itu sendiri berkat dampingan orang tua dan mendiskusikannya.

Tanggapan datang dari Bung Bernando. Ia menjelaskan bahwa karya sastra Turki sebenarnya berat untuk anak-anak dan remaja. Namun perlahan sejak tahun 2000 awal, di Turki muncul fenomena popularitas karya sastra berat. Karena sastra itu menjadi perbincangan di koran, televisi, dan film. Anak muda Turki menyukai sastra berat juga karena populer di industri film dan televisi. Kalau dibandingkan Turki, Indonesia masih dalam taraf media koran saja, untuk televisi dan film masih minim mempopulerkan sastra.

Sementara itu Bung Asef menceritakan bagaimana sastrawan dan birokrat negara saling tidak percaya dalam hal menyatukan pandangan untuk membahas karya sastra yang cocok untuk siswa sekolah.

“Pernah ada usaha dari kementerian untuk membuat 100 karya sastra yang wajib dibaca. Namun persoalannya menjadi rumit jika nama-nama besar tidak masuk dalam daftar bacaan. Hal itu selalu menjadi polemik yang tidak sampai pada titik temu. Sehingga persoalan tidak pernah selesai.  Malah penerbit Ibokoe yang sudah melakukan itu, meskipun bergerak di level komunitas bukan dari level kebijakan negara.”

Diskusi makin panas dengan kedatangan Faisal Kamandobat yang telah banyak menulis puisi dan prosa. Ia seperti datang dengan suatu pandangan baru dan mengkritik habis popularitas sastra Indonesia kontemporer.

“Sastra itu gak ada basis sosialnya di Indonesia. Enggak seperti di Amerika Latin, sastra menjadi bahasa keseharian penduduk. Dulu Lekra jaman 60-an berkembang pesat karena dia organisasi cangkokan PKI. Setelah peristiwa 65 sudah gak ada lagi sastra yang populer di masyarakat. Kalau Lekra itu organik, enggak mungkin dia habis dengan sekejap. Jadi bagiku, kalau mau mempopulerkan karya sastra ya harus punya Ormas dulu. Aku bosen dengan sastra karena hanya desas-desus saja, sementara untuk karya sendiri biasa saja. Gak ada lagi yang bisa kayak Pram atau Budi Darma. Apalagi sastra enggak bisa untuk hidup, nulis di koran aja harus ngantrinya lama. Bagiku kalau gak ada karya sastra yang berasal dari persoalan konkret keseharian masyarakat, maka karya itu hanya akan menjadi desas-desus.”

Malam kian larut, diskusi pun selesai dengan membawa banyak persoalan yang ada di kepala. Aku pun hanya diam dan menjernihkan pikiran. Di satu sisi mempopulerkan sastra sangat penting dilakukan saat ini. Namun di sisi lain apakah sastra kontemporer sekarang bisa menjawab tantangan konkret keseharian masyarakat? Jika sastra menjawab tantangan konkret masyarakat, pastinya ia menjadi populer dengan sendirinya. Aku teringat Mario Vargas dan Luis Borges yang menulis untuk menjawab persoalan konkret bangsa Amerika Latin. Namun apakah semua sastrawan harus menjawab persoalan konkret masyarakat? Kadang aku berpikir bahwa setiap penulis memiliki karakteristiknya sendiri. Kalau semua penulis dipaksa untuk menjawab persoalan konkret kukira itu sangat sulit. Karena bagaimanapun setiap penulis mempunyai referensi, ideologi, dan kepentingan yang  sangat beragam.

Pada akhirnya, menurutku, diskusi di Kedai Mare, benar-benar membawaku ke alam yang berbeda. Hanya diam dan sepi, semuanya tinggal pribadi orang memaknainya seperti apa.

 

Sumber: http://pocer.co/read/sastra-dan-persoalannya-suatu-malam-di-kedai-mare

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s