Badrul Mustafa: Paderi Hingga Orde Baru dalam Puisi


Oleh Diwan Masnawi

Di Kedai Mare Yogyakarta, saat maghrib menjelang, Heru Joni Putra nampak sudah duduk santai sambil menghirup kopi hitamnya awet-awet. Saya beserta teman-teman dari kelompok musik tradisi Ngakar baru saja memarkirkan motor di halaman parkir. Pemilik kedai sekaligus empunya hajatan, Yona Primadesi, Nermi Silaban dan Abhinaya, seperti yang selalu terjadi, tersenyum ramah menyapa setiap tamu yang dating. Saya dan teman-teman Ngakar tentu saja kebagian keramahan tersebut. Apalagi sesampainya di sana, kami disuguhi gulai kuah kuning, menu jagoannya Kedai Mare.

Malam itu, 24 September 2017, dilaksanakan diskusi kitab puisi Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa karya Heru Joni Putra. Badrul Mustafa masuk nominasi 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa Award tahun ini, di kategori buku pertama dan kedua serta kategori puisi. Diskusi tersebut akan diisi oleh pembahas Muhammad al-Fayyadl, yang juga penulis buku Derrida, dan Filsafat Negasi. Gus Fayyadl, begitu beliau akrab disapa juga merupakan alumnus Universite ParisSelain Gus Fayyadl, kitab puisi Badrul Mustafa juga dibahas oleh Muhammad Ali Fakih, penulis buku puisi Di Laut Musik. Saya malam itu mendapat kehormatan didaulat menjadi moderator diskusi.

Acara dibuka oleh lengking suling, gema hembus nafas berat dari Goong Tiup, dan pong-pang-pong-pang karinding dari komunitas musik Sunda Ngakar. Ngakar dengan instrument tradisional Sunda, mengiringi pembacaan puisi dalam kitab puisi Badrul Mustafa yang berjudulMembunuh Pujangga Istana. Puisi tersebut menurut Esha Tegar Putra yang juga penyair dari tanah Minangkabau, seperti halnya Heru Joni Putra, mengatakan bahwa puisi tersebut kuat dengan lirisme Minangkabaunya. Akan tetapi Ngakar nampaknya mampu menciptakan suasana yang menarik dan berbeda sebagai pengantar untuk masuk ke dalam diskusi.

Al-Fayyadl membuka pembacaannya terhadap kitab puisi Badrul Mustafa  dengan sebuah pernyataan bahwa Badrul Mustafa merupakan tokoh yang selalu hadir dalam 40 sajak di dalam kitab puisi tersebut, dan menjadi sebuah metonomi yang bisa berarti siapa saja dan apa saja. Seperti halnya dalam salah-satu puisi, di mana Badrul Mustofa mengkritik secara puitis kaum Paderi, berdakwah tetapi dengan cara menista agama-nya sendiri. Menanggapi dengan banyak diangkatnya pola-pola pengucapan bertutur, baik dengan pantun, pepatah-petitih, al-Fayyadl memberikan satu pernyataan yang sangat baik, bahwa Heru dalam bukunya telah menciptakan puisi kontemporer yang ditulis dengan struktur pengucapan tradisional.

Sebagai seorang filsuf muda, al-Fayyadl pun mengemukakan gaya popular kepenulisan puisi di Indonesia, secara garis besar menjadi dua madzhab yaitu antroposentrisme dan anti-antroposentrisme. Antroposentrisme seperti halnya yang dilakukan oleh Chairil Anwar yang mengangkat aku dalam tiap-tiap puisinya. Al-Fayyadl menambahkan bahwa Chairil adalah antroposentrisme heroik, yang bisa kita temukan jejak-jejaknya dalam Krawang-Bekasi atau Diponegoro. Sedang anti-antroposentrisme memfokuskan puisi-puisinya kepada benda, seperti yang bisa kita temukan dalam puisi Afrizal Malna. Kesusastraan Indonesia, secara umum berada di bawah bayang-bayang kedua golongan tersebut. Lantas di manakah letak Badrul Mustafa dalam kesusastraan Indonesia? Menurut Al-Fayyadl Badrul Mustafa berada dalam posisi antroposentrisme anti-heroisme.

Semakin malam pengunjung yang sebagian besar merupakan pegiat literasi di wilayah Yogyakarta dan sekitar, semakin memadati Kedai Mare. Ketika Muhammad Ali Fakih menyampaikan paparannya terhadap kitab puisi Badrul Mustafa, ia lebih memposisikan diri sebagai pengkritik pola-pola kepenulisan Heru, yang disebutnya sebagai puisi naratif. Karena konsekuensi dari puisi naratif tersebut,  Heru selaku penulis menjadi kurang hati-hati dalam memilah kata-kata serta menjaga sifat ekonomis puisi yang berpengaruh kepada kekuatan kata pada puisi-puisinya. Seperti contoh pada puisi Lagu Petani Tak Bersawah yang pada tiap akhir di beberapa lariknya, hambur menggunakan kata ‘ini’ dan ‘itu’.

Bagaimana reaksi Heru? Heru menanggapi bahwa terlalu banyaknya penggunaan kata tunjuk seperti ‘ini’ dan ‘itu’ dalam puisinya tersebab ia merasa bahwa bahasa Indonesia mempunyai kosakata yang terbatas dibanding bahasa daerah. Maka Heru pun menyeru, di hadapan persoalan keterbatasan bahasa Indonesia, Ia harus lebih berani mengintervensinya dengan bahasa daerah. Hal tersebut kentara dalam puisi-puisi yang Heru tulis dalam kitab Badrul Mustafa.

Di luar kedai, titik-titik gerimis mulai jatuh, untuk lalu menjadi hujan. Itu adalah hujan pertama yang turun kembali di Yogyakarta setelah sekian lama enggan. Dalam sayup-sayup suara hujan yang menembus sampai ke ruang acara, kegiatan beralih pada pembacaan puisi Badrul Mustafa oleh Safar Banggai, Imana Tahira dan Andre Wijaya. Suasana diskusi kembali hadir setelahnya.

Acara ditutup oleh satu kejutan, dari Gus Fayyadl, dengan membacakan salah satu puisi Heru Joni Putra yang berjudul Menumbangkan Pohon Beringin. Puisi tersebut merupakan puisi terakhir yang terangkum dalam 40 puisi bertajuk Badrul Mustafa. Puisi Menumbangkan Pohon Beringin, menurut Heru adalah klimaks dari keseluruhan rangkaian cerita dan perjalanan Badrul dalam kitab puisinya. Sebagaimana disampaikan Heru, beringin merupakan sebuah simbol, yang di lain perkara juga dimitoskan. Gus Fayyadl memberikan semacam pengantar sebelum pembacaannya, bahwa puisi Heru yang berjudul Lagu Petani Tak Bersawah, sangat sesuai dengan kondisi hari ini. Ditambah pula bertepatan 24 September sebagai hari Tani. Al- Fayyadl membacakan puisi yang ia paraphrase menjadi Menumbangkan Orde baru. Berikut dua bait awal puisi yang telah di paraphrase tersebut:

 

Kau tak akan pernah bisa menumbangkan

Orba di tengah pasar

Hanya dengan cara memalingkan muka darinya

Lalu berkata kepada setiap orang yang kautemui

Bahwa Orba itu sudah kau anggap tak ada.

 

Dan kau tak akan pernah bisa menumbangkan

Orba di tengah pasar

Meski sebilah kapak

Kau ayunkan berkali-kali ke pangkalnya

Lalu kau berhenti begitu saja

Ketika para ahli  sejarah mengatakan

Bahwa apa yang kau lakukan itu

Mustahil belaka karena nenek moyangmu

Sudah mencoba menumbangkan

Orba itu dengan sebongkah batu

Tapi ia tetap saja berdiri kokoh

Sampai ke zamanmu.

 

SUmber: http://orangkayabuku.com/berita/badrul-mustafa-paderi-hingga-orde-baru-dalam-puisi/34

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s